Rabu, 19 April 2017

SURAT MATAHARI UNTUK BULAN

  Aku tidak pernah menyangka kalau apa yang aku alami selama ini, berujung ironis. Perasaanku dan firasatku selalu tertuju serta tercurah padamu. Kuungkapkan semuanya secara jujur padamu, meskipun aku tahu konsekuensi yang akan kuterima. Terkejut? Pastinya ya, aku pun tidak bisa melihat ekspresimu yang menatapku ibarat eksekutor yang siap mengeksekusi sang terdakwa. Aku memang bodoh dan selamanya akan bodoh seperti ini. Walau ucapan maaf yang terlontar dari bibirku mencapai triliunan kali, tidak akan bisa mengaubah keadaan yang telah terjadi. Semuanya sudah terlanjur dan keadaan juga sedikit renggang, seperti piring pecah yang dikumpulkan kembali serta direkatkan lagi dengan suatu perekat. Semuanya tidak bisa kembali utuh. Aku pun tersenyum getir melihat citra yang selalu kupandangi setiap malam, sambil menitikkan air mata. Cengeng? Tidak, aku hanya bisa mengekspresikan apa yang kurasakan malam ini. Kembali lagi, aku menghakimi dan mempersalahkan diriku yang bodoh ini sehingga aku taku kuasa mengingat lagi "selasa" itu. Ingin kumengurung dan membunuh perasaan ini lagi untuk kesekian kalinya. Rindu dan kangen pun seakan-akan ingin kubunuh karena aku telah menyebabkan "selasa" itu terjadi. Apakah aku harus berubah seperti yang kauminta? Bisa saja aku berubah, namun aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Mungkinkah "selasa" itu terulang? Ahh, aku sulit untuk memaafkan diriku karena menyakitimu.
   Kini, aku meratap lagi dalam kesendirianku. Kesendirian yang sudah menemaniku sekian lama pun kembali membekapku. Ingin kuucapkan kata sesal dan maaf padamu karena telah menyebabkan "selasa" itu terjadi. Bayang-bayang tatapan matamu kala itu terus menghujam relung hatiku seakan-akan aku tidak bisa bernafas lagi dam waktu yang lebih lama. Aku pun mengerti apa yang kaurasakan dan apa yang kaupikirkan. Ketakutanmu padaku juga membangkitkan ketakutanku akan diriku sendiri. Takut? Ya, aku takut meninggalkanmu dan ditinggalkan olehmu. Kumenangis lagi dalam hatiku dan berharap agar semuanya baik-baik saja, seperti apa yang telah kita jalani selama ini. Bolehkah aku mengucapkan kata sesal dan maaf ini untuk terakhir kalinya, Bulan? Aku ingin selalu membahagiakanmu dan ingin melihatmu bahagia, walaupun aku harus berkorban dengan meninggalkan "peraduanku" ini demi bisa menemanimu setiap waktu. Aku minta maaf dan menyebabkan "selasa" itu terjadi dan kalaupun kamu ingin meninggalkanku, aku akan ikhlas merelakanmu pergi walaupun itu sangat berat. Aku mengerti kalau kamu masih bertahan dalam rasa kecewa, kesal, jengkel, marah, sedih, yang berpadu satu dalam tangismu itu walaupun kau berusaha untuk tidak mengungkapkan itu semua, dan akulah penyebab semuanya itu. Hanya inilah yang harus kau tahu bahwa aku akan tetap menyayangimu dan mencintaimu, walaupun aku harus berteman jarak. Aku sayang dan cinta padamu, Bulan!


Matahari

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar