Selasa, 06 Desember 2016

SELAMAT JALAN, NEK...

   Saat mentari terbit pagi ini, aku hanya tersenyum melihat matahari terbit dan memancarkan sinarnya ke dunia ini. Dan saat-saat yang ku tunggu telah datang. Aku dan semua keluargaku selalu pergi ke rumah nenek yang letaknya agak jauh dari rumahku yaitu di Klaten, Jawa Tengah untuk berkunjung bersama seluruh keluarga besarku. Sebenarnya aku dan kakak-kakakku tak mau ikut pergi kerumah nenek tapi entah mengapa ayah tetap mendesak kami untuk ikut pergi bersamanya, ayah hanya mengucapkan satu hal pada kami, "Bagaimana jika kalian tak dapat melihatnya lagi?”, dan kami pun hanya terdiam mendengar perkataan ayah yang membuat kita tak mengerti mengapa ayah mengucapkan kata-kata itu. Tetapi aku tak merasakan ada yang aneh dengan perkataan ayah, ayah memang selalu menyuruh kita untuk selalu ikut pergi kerumah nenek karena memang kita sangat jarang bertemu karena memang keadaan yang tak memungkinkan tuk kita selalu bertemu
    Saat sesampainya di rumah nenek ku melihat jam yang menunjukkan pukul 16.00 WIB, seperti biasa kami langsung pergi menuju kamar nenek yang tak terlalu jauh. Tetapi saat ini kumerasa ada yang aneh dengan nenek. Biasanya jika kami datang ia langsung menangis dan memeluk kami erat-erat, tetapi ini memang sih seperti biasa ia langsung memeluk kami dengan eratnya tetapi ia hanya tersenyum tanpa ada air mata yang jatuh membasahi pipinya.
   Nenek yang sejak beberapa tahun yang lalu mengidap penyakit stroke yang sudah cukup lama.kami semua sudah mencoba membawa nenek kerumah sakit manapun tetapi apa hasilnya? Ia tetap saja seperti itu. Baru kali ini aku mengenal nenek yang sangat tegar dalam menghadapi semua cobaan. Ia adalah nenek yang sangat kukagumi ia sangat kuat dalam menghadapi penyakitnya tak pernah ku mendengar ia mengeluh dan merintih kesakitan karena penyakitnya, ia adalah nenek yang sangat kuat yang pernah ku kenal selama ini.
    Ia pernah berkata padaku walau aku tak seberapa mengerti apa yang ia ucapkan karna cara ia berbicara sangat terbata-bata dan susah untuk mengatakan kata-kata dari mulutnya akibat penyakit yang dideritanya selama ini yang aku pahami intinya adalah kalau ia sangat menyayangiku lebih dari apapun di dunia ini, mungkin aku baru menyadari kasih sayangnya yang sangat besar selama ini padaku. tetapi aku merasa ada yang aneh akhir-akhir ini, aku sangat sering melihat raut wajah nenek yang sangat cantik dan bahagia, mungkin karena semua anak-anaknya ngumpul besamanya karna jarang sekali saat-saat bahagia itu datang jika memang tidak ada acara atau keadaan yang sangat penting disini.
   Sebelum aku melihat nenekku aku bertanya kepada Tuhan “ Tuhan mengapa kau mengambilnya secepat ini??, mengapa kau memanggilnya sekarang??, Tuhan jika ku dapat memutar waktu ku ingin membuatnya bahagia di sisa-sisa hidupnya, Tuhan aku tak dapat melihat ia tertidur untuk selamanya, Tuhan apakah ia memiliki salah kepadamu walau aku tau ku tak dapat melawan takdir yang telah kau gariskan”.  
   Saat ku mulai mencoba untuk menengok ke arah nenek, saat itu pun baru kusadari bahwa nenek yang sangat kusayangi telah pergi meninggalkanku dan meninggalkan semua yang menyayanginya di dunia ini untuk selama-lamanya dan tak akan pernah bisa ia kembali lagi ke sisi kami semua di sini. Aku pun mulai berkata dalam hati, Nenekku tersayang, cucumu datang nek. Maafkan cucumu ini yang baru datang. Tapi rasa cinta dalam hatiku tak pernah berkurang walau terkadang aku berada dalam kekhilafan. Cucumu begitu merindukanmu Nek!"  
   Tak lama aku menatap nenek yang sedang terbujur kaku di ranjang tidurnya sendiri karna ku tak dapat melihat nenek yang sangat kusayangi itu pergi meninggalkanku. Tak kusadari air mata ini mulai jatuh sedikit demi sedikit dan tak henti-hentinya terus mengalir di pipiku, tlah ku coba untuk menahan air mata ini agar tak jatuh lagi tapi sulit sekali menahan air mata ini mungkin karena aku masih terpukul dan shock untuk menerima semua hal yang telah terjadi.
  "Walau rasa rindu ini tak akan pernah terobati lagi, tetapi percayalah cucumu akan selalu mendoakanmu dalam setiap sujudnya. Salam cintaku untukmu Nek, tenanglah di sana! Selamat tinggal, Nek.”

Senin, 24 Oktober 2016

ETIKA DAN REFORMASI GEREJA



Berbicara soal etika, filsafat memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan dunia secara keseluruhan, terlebih pada perkembangan Gereja hingga saat ini. Etika memberi perhatian yang lebih pada permasalahan mengenai kehidupan manusia dalam bertindak. Mengapa etika dianggap perlu untuk menentukan arah tindakan manusia? Franz Magnis-Suseno dalam bukunya, Etika Dasar (1987: 15), menyatakan bahwa etika hendak menyediakan orientasi atau tujuan. Setiap tindakan manusia perlu memerhatikan moralitas dan hubungan itu saling berkaitan satu sama lain. Manusia memiliki suatu tujuan tertentu dalam melakukan suatu tindakan, terlebih dalam kehidupan bermasyarakat yang semakin pluralistik seperti saat ini.
Lantas, bagaimana kaitan antara etika dan Gereja? Etika sendiri memang tidak dapat menggantikan agama dan juga tidak bertentangan dengan agama, bahkan sangat diperlukan. Perlu digarisbawahi bahwa Gereja memiliki tujuan untuk menghimpun seluruh jemaat Allah agar mampu menjalankan hidupnya dengan baik dan saleh. Saya melihat bahwa terdapat relevansi yang konkret dengan adanya etika ini bagi perubahan di dalam Gereja. Secara historis, reformasi Gereja dimulai oleh Martin Luther (1484-1546) melalui pernyataan-pernyataannya yang mengecam sistem birokrasi Gereja Katolik Roma yang kacau. Dari peristiwa besar dalam sejarah ini, tindakan yang dilakukan oleh Luther merupakan suatu bukti bahwa etika mendasarkan pada tanggung jawab individu. Luther memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan Gereja pada yang seharusnya atau pada kebenaran, bukan malah meneruskan kebobrokan moral yang terjadi kala itu. Etika diinterpretasikan sebagai usaha manusia untuk memakai akal budi dan daya pikirnya untuk memecahkan masalah bagaimana ia harus hidup kalau ia mau menjadi baik (Franz Magnis-Suseno, 1987: 17).
Di zaman ini, semakin banyak orang yang meninggalkan moral dalam tindakan mereka setiap hari, bahkan mereka tidak tahu menahu bahwa tindakan mereka benar atau salah. Sudah seharusnya, manusia kembali melihat seluruh tindakannya dalam pandangan moral dan tidak mendasarkan pada ajaran agama-agama atau ideologi-ideologi tertentu. Setiap tindakan perlu moralitas untuk menentukan teleos atau tujuan atas motif tindakan itu dilakukan. Gereja sendiri juga memberikan tujuan, mau diarahkan pada apa setiap tindakan dari umat-umatnya. Manusia harus tahu di mana mereka berada, dan ke arah mana mereka harus bergerak untuk mencapai tujuannya. Dalam Konsili Vatikan II, Paus Yohanes XXIII sangat giat mendengungkan semangat “Aggiornamento” yaitu bahwa Gereja harus senantiasa mereformasi atau memperbarui diri seturut dengan perkembangan zaman. Melalui semangat inilah, Gereja menyeimbangkan diri dengan arus zaman yang sedang berkembang agar tidak hanyut dan tetap mempertahankan eksistensinya.
Dampak dari etika terhadap reformasi Gereja sangat signifikan, terlebih bagi pendidikan Kristiani. Secara implisit, etika ditanamkan di dalam keluarga oleh orangtua kepada anak-anak melalui norma-norma atau aturan-aturan yang sederhana. Pendidikan etika di dalam keluarga Kristiani ini lantas tumbuh dan mendarah daging hingga teraplikasikan pada hidup menggereja. Kebebasan dalam bertindak yang dimiliki oleh manusia, menentukan arah dan tujuan hidup mereka sehingga pilihan hidup tiap orang pun berbeda. Hal ini yang saya rasakan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Contohnya, pendidikan calon pastur Gereja Katoluk di dalam seminari, menitikberatkan pada kebebasan individu dalam bertindak serta kemandirian dalam menentukan pilihan. Saya sendiri merasakan bahwa etika membuat saya semakin bertanggungjawab dalam menentukan arah tindakan saya, terlebih sebagai seorang calon pastur Gereja Katolik. Etika sangat diperlukan dan sangat relevan bagi kemandirian pribadi di tengah arus modernisasi ini, sebab tindakan yang saya lakukan saat ini akan memberi dampak yang besar bagi kehidupan saya di masa yang akan datang.
Reformasi Gereja tidak dimulai dalam skala yang masif, melainkan dalam skala yang kecil dan dari tiap-tiap anggota Gereja itu sendiri. Di sinilah peran etika mulai dibutuhkan untuk menentukan arah dan tujuan hidup tiap individu. Saya sangat bersyukur karena etika memberikan arah dan tujuan yang semakin jelas dalam hidup saya sebagai seorang calon pastur Gereja Katolik. Saya memilih menjadi seorang calon pastur secara bebas dengan dibina di dalam seminari dan saya semakin bertanggungjawab dengan apa yang saya pilih. Melalui etika itulah, saya mampu mereformasi diri saya dan semakin mengenal arah tindakan saya serta pilihan-pilihan yang saya pilih, sehingga saya mampu untuk mengusahakan reformasi serta perubahan yang baik bagi Gereja Katolik.

Kamis, 22 September 2016

Happy Birthday to Me (Special story celebrating my 22th birthday)



Three days had passed since she had learned of the death of her estranged father. Three days she had spent remembering... the family holidays they had shared... the card games he had taught her... the silly jokes at which they had giggled together... Three days had brought ever-shifting sensations: of dry-throat shock that she would never see him again; of incurable regret that their last words had been an argument; and of bewilderment that she should be moved to such sorrow and sleeplessness after so many years without him.
He had abandoned the family when she was a mere teenager, and she had spent the two decades since then wondering - from time to time - whether he was alive or dead. Now she knew for sure. The letter to her mother about a long-forgotten insurance policy was official enough, but it gave no hint of where he had lived or what had become of him. Only that he had died about a month ago. And that is where her mother wanted to leave it. End of story.
Except that it was now Day Three, and she was being overwhelmed by a restless urge to find him. She left her mother in charge of her small daughter and retreated upstairs to spend the rest of the evening on the Internet... searching. As she began tapping his name into the first of countless dialogue boxes, the futility of trying to find Alex Smith made her smile. Undaunted, she buzzed through the online obituaries from newspapers across the country, zapping between directories and electoral registers in the area where he was born. Only now did it occur to her that today was Dad's birthday.
Her shoulders were hunched and her eyes parched by the time she gave up. She switched off the computer and glanced at the clock - ten minutes to midnight! Yet she could still hear her wee girl's voice chirping away with Nanna. She was glad the little one was awake, as she knew she would get a big hug when she went downstairs.
Instead she found the pair of them searching for something. They were trotting excitedly between the lounge and kitchen trying to track down an odd noise. It was an electronic sound - persistent and repetitive - and they were convinced that it was one of the child's battery-operated toys. She quietened everyone so that she could trace the source of the pulsations. She was drawn to the top shelf of a cold larder cupboard. Her hand trembled as she grasped something that had lain untouched for decades; It was a heat-activated, novelty candle which played "Happy Birthday" continuously once lit. But tonight the flameless candle was singing merrily in her hands.
In that instant she found him. The quivering on her skin transformed into a warm embrace and a safe and secure thought from her childhood settled in her brain: Daddy's home.

Sabtu, 27 Agustus 2016

The Philosophy of Friendship

Long time ago in ancient Greece, there live a man named Socrates, who was highly knowledgeable and an esteemed philosopher. One fine day, a fellow approached him. That person told Socrates that he has some information to tell him about his friend. Before he could even start talking about his friend, Socrates told him to take a test known as the 'Triple Filter Test'.

The first test of the 'Triple Filter Test' was the filter of truth. Socrates asked him if the information he had was the truth. The person said that he had just heard it on the way and was not sure if it was the absolute truth. The second filter was that of goodness. He asked if the information was regarding anything good about his friend. The man said it was actually the opposite. The third filter was that of usefulness. Socrates asked if the information was useful to him in any way. The man replied in the negative.

Socrates then replied that when the information regarding a friend is not true, good or useful, then why it should be conveyed at all. The moral of the story is that you may always participate in loose gossip, but when it comes to your friends ,it is just not worth it. You know your friends better than others. Therefore, you must avoid talking behind the back of your dearest friends. It only leads to strained relations and shows that you are not reliable or trustworthy as a friend.

Kamis, 25 Agustus 2016

Forgiveness Conquer The Dark Memories

I remember the day I first met you. I remember the first word you said to me. I remember it all, but I bet you don’t remember. I remember the conversation we once had about doughnuts. I even remember the first time you said I love you. But I also remember how we fell apart. We had been together almost 5 months. It was the first day of school but it was also the day my heart died. I woke up feeling happy making sure to send you a good morning text and to remind you how much I love and care for you. Getting on the bus to find a seat was ok. I got to the school slowly feeling the dread of last year’s demons coming back. Me getting called fat and ugly while wishing and hoping for someone to hold me to help me fight my demons with me. Getting picked on by people because of false rumors. Oh how I longed for someone to love and to give love back to me. I closed my eyes trying to erase the memories but they stayed in my head like an annoying song.

I somehow found my classroom to get my schedule. My locker got jammed no one could get it opened so my stuff had to stay in the office. I got to see my friends again, but also learning who the real friends were and who the fake ones were. I sit there telling my friends how great and loving you are. Little did I know that at your school you were having lunch with another girl sitting on your lap feeding you food and kissing you. I wasn’t even thinking about you ever cheating on me. At my school during lunch I had to sit there getting food thrown at me by stupid jerks. When I heard the finally bell ring I ran out of the school I immediately start texting you. I tell you I love you but instead of an “I love you too” you texted me saying “yeah”. I felt a pain but it went away when I thought maybe you had a rough day too and that you didn’t feel in the mood to talk. I called you but you ignored my call. Then I got a text from you. I started to smile but then I opened the text. My smile vanished.


As I kept on re-reading what you texted me not believing it. Tears that I tried holding back but I couldn’t as a rush of pain attacked my poor aching heart. As I read the words. “I think its best if were just friends. I met someone new today and we did a few things I think it would just be best if we kept little contact as possible. I know how much you love me but as I was kissing the other girl my love for you left.” I couldn’t take it anymore. The rejection, un-returned love, unfaithfulness, lies and heartbreak. I ran as fast as I could away from it all. I never stopped running. Till one day my heat couldn’t take it. I fell to the ground tears on my face a broken heart I was desperately trying to repair by myself. One thought on my mind ‘I forgive you.’ Now as I look down at everyone’s tear stained face. Their eyes full of different emotions. One pair of eyes stood out the most his. I watched as he walked up to my tombstone and read the words.

The True Beyond The Weakness

One day, a young guy and a young girl fell in love.

But the guy came from a poor family. The girl’s parents weren’t too happy.

So the young man decided not only to court the girl but to court her parents as well. In time, the parents saw that he was a good man and was worthy of their daughter’s hand.

But there was another problem: The man was a soldier. Soon, war broke out and he was being sent overseas for a year. The week before he left, the man knelt on his knee and asked his lady love, “Will you marry me?” She wiped a tear, said yes, and they were engaged. They agreed that when he got back in one year, they would get married.

But tragedy struck. A few days after he left, the girl had a major vehicular accident. It was a head-on collision.

When she woke up in the hospital, she saw her father and mother crying. Immediately, she knew there was something wrong.

She later found out that she suffered brain injury. The part of her brain that controlled her face muscles was damaged. Her once lovely face was now disfigured. She cried as she saw herself in the mirror. “Yesterday, I was beautiful. Today, I’m a monster.” Her body was also covered with so many ugly wounds.

Right there and then, she decided to release her fiancé from their promise. She knew he wouldn’t want her anymore. She would forget about him and never see him again.

For one year, the soldier wrote many letters—but she wouldn’t answer. He phoned her many times but she wouldn’t return her calls.

But after one year, the mother walked into her room and announced, “He’s back from the war.”

The girl shouted, “No! Please don’t tell him about me. Don’t tell him I’m here!”

The mother said, “He’s getting married,” and handed her a wedding invitation.

The girl’s heart sank. She knew she still loved him—but she had to forget him now.

With great sadness, she opened the wedding invitation.

And then she saw her name on it!

Confused, she asked, “What is this?”

That was when the young man entered her room with a bouquet of flowers. He knelt beside her and asked, “Will you marry me?”

The girl covered her face with her hands and said, “I’m ugly!”

The man said, “Without your permission, your mother sent me your photos. When I saw your photos, I realized that nothing has changed. You’re still the person I fell in love. You’re still as beautiful as ever. Because I love you!”

Sabtu, 23 Juli 2016

Friend or Foe?

“Sekarang biarkan aku yang pergi” celetuk Riana yang memang sudah jengkel dengan kelakuan Fikri
“oke, kalau itu maumu” jawab Fikri dengan nada tinggi
Suasana menjadi tegang, pertengkaran keduanya tak bisa terhindarkan, semua yang terjadi saat ini di picu dari kesalahpahaman Ria yang beranggapan bahwa Fikri telah menduakannya.
Fikri gusar karena di tuduh berhianat, sedang Riana begitu saja percaya dengan apa yang dikatakan Niken. Niken ini adalah teman baik Riana dan juga Fikri.
Setelah pertengkaran itu kini hubungan Fikri dan Riana sangatlah tidak baik, mereka saling serang dan berupaya membenarkan dirinya masing-masing, tak taunya hal ini di manfaatkan betul oleh Niken yang berusaha untuk mendekati Fikri.
Selama ini Niken memendam perasaanya ke Fikri karena Fikri adalah temannya dan juga kekasih Riana.
Tanpa diketahui Riana Niken terus berupaya mendekati Fikri, Riana tak pernah sekalipun menduganya karena memang tak tampak ada yang berubah, Niken tetap menjaga persahabatannya dan selalu bersikap manis pada Riana.
Sampai suatu masa Niken menghasut Fikri agar supaya memutuskan Riana, Fikri yang sudah merasa bosan dengan ulah Riana yang kerap memojokkanya pun dengan mudah terhasut oleh bujukan Niken.
Namun Fikri masih menunggu waktu yang tepat untuk memutuskan Riana, sementara Niken yang merasa sudah mendapat perhatian lebih dari Fikri semakin tak ingat siapa itu dirinya, siapa itu Fikri, siapa itu Riana. Ia selalu mencari perhatian dari Fikri, ia selalu menebar pesonanya di hadapan Fikri. Seolah tak pernah sia-sia apa yang diperbuat Niken mendapat respon bagus dari Fikri, Fikri sangat bersimpati padanya, dan begitu mudah Fikri tertarik oleh pesona Niken hingga Fikri terlupa pada Riana yang merupakan kekasih hatinya.
“kamu sungguh cantik ken” ungkap Fikri memuji
“ah biasa aja Fik, aku masih kalah cantik jika dibanding Ria” balas Niken malu-malu
“persetan dengan Ria” ujar Fikri lantang.
Niken terdiam, ia merasa telah berhasil dalam upayanya.” Sebentar lagi Fik kamu pasti bisa kutaklukkan” gumam Niken dalam hati.
“tapi bagaimanapun aku gak akan bisa seperti Ria” balas Niken berkelekar.
“kamu akan lebih baik dari Ria ken” jawab Fikri menyanjung.
Saat ini Fikri memang sedang di mabuk asmara, ia tak lagi pedulikan keberadaan Riana, ia hanya berfikir bagaimana bisa mendapatkan Niken.
Riana sadar bahwa selama ini hubunganya dengan Fikri sengaja di buat berantakan oleh sahabatnya yaitu Niken.
Namun yang tak habis dipikir oleh Riana kenapa Niken melakukan ini padanya.
Riana belum juga menyadari bahwa tujuan Niken yang utama adalah mau merebut Fikri darinya.
Suatu ketika Riana memergoki Fikri yang saat itu sedang bercaanda mesra dengan Niken, sungguh tak dapat di percaya oleh Riana bahwa kekasihnya sedang ada main dengan sahabatnya. Riana berupaya untuk tak mempermasalahkan hal ini, dengan ia berpura-pura tak mengerti hubungan Fikri dengan Niken.
Namun jauh dari apa yang diharapkan Riana, Fikri semakin gila dan menjadi-jadi tentu saja ini membuat Riana berang atas Fikri.
“bajingan kamu Fik” bentak Riana kasar.
“bajingan apa Yan” sahut Fikri berlagak bodoh.
“aku coba untuk terus bertahan, tapi kenapa kamu tak juga berubah. Kamu ada main dengan Niken kan? Iya kan? Jawab! ujar Riana dengan terisak.
Fikri mencoba membela diri ia berusaha menjelaskan semuanya, namun Riana terlanjur terbakar emosinya.
Lagi–lagi pertengkaran besar antara sepasang kekasih ini tak bisa terhindarkan lagi, bahkan lebih heboh dari yang lalu.
“sekarang kamu pilih mana, antara aku atau Niken” tanya Riana dengan cucuran air matanya
Fikri bingung tak menjawab, ia hanya terdiam.
“kalau kamu laki-laki kamu harus bisa memilih” desak Riana dengan wajah yang sangat kecewa.
Fikri memilih berlalu meninggalkan Riana tanpa ada sepatah kata yang terucap.
Fikri datang kepada Niken untuk menjelaskan permasalahannya dengan Ria, namun Niken pun memojokkan posisi Fikri saat itu, Niken juga mau ditegaskan posisinya terhadap Fikri, Niken hanya mau jika Fikri ingin tetap menjalin hubungan dengannya maka Fikri harus memutuskan Riana.
Serba salah Fikri sebuah keputusan yang sungguh menyulitkan Riana.
“oke ken, aku akan putusin Ria” ungkap Fikri bingung.
“bener fik” jawab Niken girang karena telah berhasil menaklukkan Fikri.
Nikenpun memeluk Fikri karena bahagia mendengar keputusan Fikri, begitu juga Fikri memeluk Niken seolah tak ingin kehilangan Niken.
Mengetahi keputusan ini pun Riana tak bisa berbuat apa-apa ia hanya berpasrah kepada Sang Mahakuasa, namun di dalam hatinya masih merasa pedih karena harus kehilangan Fikri yang sangat dicintainya harus berpaling kepada Niken sahabat yang sangat dipercayainya.
Riana memilih pergi jauh meninggalkan kehidupan Fikri dan Niken yang sudah sama-sama menghianatinya.
Riana pergi membawa lukanya sendiri. sebuah pelajaran berharga yang didapati Riana.
Kini Riana menutup hati untuk setiap laki-laki yang hendak mendekatinya,
Adapun nanti ia membuka hati untuk kaum adam mungkin saja ia akan semakin selektif dalam memilih dan menentukan pasangannya, ia tak mau ada Fikri-Fikri lagi yang mungkin kelak menghancurkan hatinya.

Rabu, 20 Juli 2016

CINTA UNTUK PELANGI

   Suatu hari di tepi danau yang indah, seorang wanita sedang duduk sendiri. Dia sedang memainkan kuas dengan warna-warni cat diatas kanvas. Pelangi, itulah namanya. Dia sering berada di tepi danau melakukan kegiatan melukis sendiri. Setiap hari dia diantar oleh pengasuhnya ke tempat tersebut. Sesekali terkadang bersama neneknya dia pergi ke danau tersebut. Pelangi adalah seorang wanita cantik yang ditinggal oleh ayahnya yang harus bekerja di Jerman, ibunya meninggal saat dia masih kecil, dan kini dia tinggal bersama kakek, nenek, serta pengasuhnya. Pelangi menjalani home schooling di rumahnya. Tidak seperti wanita normal lainnya yang sering bergaul, Pelangi justru wanita yang pendiam dan tidak memiliki banyak teman.
Minggu pagi yang cerah saat Pelangi sedang libur dari home schooling-nya, dia pergi ke tepi danau tempat biasa dia melukis. Siapa sangka, setiap dia melukis di tepi danau itu ternyata ada seorang pria yang sering memperhatikannya dari kejauhan dan secara sembunyi-sembunyi. Pelangi tidak mengetahui kalau dia memiliki seorang penggemar rahasia yang selalu memperhatikannya dari kejauhan. Pria tersebut sangat terpesona dengan paras wajah Pelangi yang sangat menawan, tubuhnya yang sangat mungil, serta rambutnya yang sekali-sekali tertiup oleh angin sehingga membuat Pelangi semakin cantik. Namun sayangnya si pria tidak bernyali untuk menghampiri Pelangi, dia malu dan minder serta takut juga kalau dia tidak disambut baik oleh Pelangi.

   Pada saat itu ketika Pelangi sedang asyik melukis, tiba-tiba hujan turun. Rintik-rintik hujan yang kecil di minggu pagi itu membuat Pelangi tidak berpindah dari tempatnya melukis, dia hanya membereskan peralatan lukisnya saja. Si pria tersebut heran melihat Pelangi yang tidak berteduh, sehingga dia memaksakan diri untuk menghampiri pelangi. “Hei, kenapa kamu tidak berteduh? Ayo kita berteduh!” ujar si pria tersebut. Pelangi tetap terdiam di tempatnya itu dengan mata terpejam dan senyumnya yang seakan menikmati hujan tersebut, dia berkata “tidak, kamu saja yang berteduh. Aku sangat menyukai hujan rintik-rintik seperti ini karena ini membuatku tenang” tanpa sadar pelangi menjawabnya dengan mata terpejam. Pria tersebut hanya diam saja memperhatikan pelangi yang sedang asyik menikmati hujan rintik-rintik, lalu Pelangi membuka matanya dan berkata lagi kepada pria tersebut “Kamu siapa? Kenapa mengajak berteduh, apa kamu mengenaliku?” (dengan nada yang heran). Si pria menjawabnya, “tadi aku duduk di balik pohon besar itu, lalu aku melihatmu sedang hujan-hujanan jadi aku ingin mengajakmu untuk berteduh” si pria merasakan hal yang berbeda, perasaan yang sangat meluap-luap yang tidak bisa di deskripsikan. Karena Pelangi semakin basah, si pria tersebut kembali mengajak Pelangi untuk berteduh. Namun Pelangi tetap tidak ingin pergi dari sana sambil memejamkan matanya dan menikmati rintik hujan, sampai akhirnya hujanpun berhenti dan pelangi membuka matanya. Dengan melihat ke atas langit, Pelangi semakin tersenyum melebar karena melihat ada pelangi yang menghias tepat di langit danau tersebut. “Oh iya, aku Pelangi, kamu siapa? Kok menungguku daritadi?” ujar Pelangi. “Aku Andre, oh jadi karena kamu menyukai pelangi makanya namamu menjadi Pelangi?” jawab si pria sambil tersenyum hangat. Akhirnya percakapan merekapun semakin jauh dan keduanya saling bertukar kontak HP.

   Singkat cerita, Andre dan Pelangi semakin dekat dan dekat. Entah apa yang dirasakan Pelangi karena tidak biasanya dia dekat dengan seorang pria, biasanya dia hanya dekat dengan orang-orang terdekatnya saja. Andre-pun merasakan hal yang sama, dia merasakan hal yang berbeda ketika dekat dengan Pelangi. Setiap malam mereka berkomunikasi di lewat HP, semakin hari semakin hubungan mereka semakin dekat dan mereka sering bertemu juga. Satu hari akhirnya mereka berpacaran dan disinilah awal mula kisah cinta mereka. Saling menyayangi dan mencintai, itulah yang mereka rasakan dan lakukan satu sama lain. Sekarang yang mengantar Pelangi ke danau sudah bukan pengasuhnya lagi, melainkan kekasihnya sendiri yaitu Andre. Andre sudah mengetahui waktu kapan mengantar dan menjemput Pelangi. Seusai home schooling, Andre sudah stand by di teras rumah Pelangi dan bersiap untuk mengantar kekasih yang baru dia kenal dalam waktu dekat dan dia dicintainya itu.

   Suatu hari Pelangi meminta Andre untuk tidak mengantar dan menjemputnya karena Pelangi terkujur sakit. Dalam waktu yang bersamaan pertengkaran juga menghampiri mereka, entah apa yang menyebabkan pertengkan tersebut. Mereka lost contact karena keduanya saling menjaga gengsi untuk menghubungi, namun rindu mereka semakin lama semakin meluap. Leukimia, itulah penyakit yang menimpa Pelangi. Andre tidak mengetahui bahwa kekasihnya itu memiliki penyakit ganas tersebut, dan penyakit leukimia Pelangi sudah sangat parah. Hingga pada suatu hari Andre tidak tahan menahan rindu dan akhirnya dia menghubungi Pelangi. Nama Andre tertulis di HP Pelangi berdering, namun sayang yang menjawabnya bukan Pelangi melainkan neneknya karena Pelangi sedang tidak sadar. Mendengar kabar dari neneknya, Andre tidak berfikir panjang dan langsung mengarahkan motornya menuju rumah sakit yang diberitahu oleh nenek Pelangi. Saat bertemu dengan nenek dan kakek pelangi, terlihat wajah sedih mereka (walaupun ditutupi dengan senyuman). Begitu Pelangi sadar, Andre langsung meminta izin untuk melihatnya kepada dokter, dan dokterpun mengizinkannya. “Kenapa kamu tidak mengatakan kalau kamu memiliki penyakit ini? Jujur, hari ini rinduku sudah mencapai puncaknya dan aku tidak bisa menahannya lagi” ujar Andre sambil menangis di depan Pelangi. “Kenapa kamu ada disini sayang? Aku takut kamu menjauhiku jika kuberitahu penyakitku ini padamu” jawab Pelangi dengan suaranya yang kecil karena masih sangat lemas. “Aku meneleponmu dan nenekmu yang menjawabnya, sehingga aku tahu kamu disini. Dengar, seberapa buruk penyakitmu, apapun yang terjadi kepadamu, aku tidak akan pernah menjauhimu apalagi meninggalkanmu. Aku sangat menyayangimu lebih dari apapun, dan aku akan selalu berada disampingmu sampai kapanpun. Maafkan aku yang menjaga gengsi kemarin karena akupun menunggu kabar darimu, sejujurnya aku sangat menyesal dengan kelakuanku kemarin”. Mendengar kalimat dari pacarnya, Pelangi tak kuasa menahan air matanya sehingga tetes air matapun jatuh di bantalnya. “Ternyata kamu merasakan hal yang sama denganku, aku sayang kamu Andre. Sekarang pulanglah, dan kembalilah besok karena sekarang sudah malam. Aku takut kamu kenapa-kenapa di jalan” Kata Pelangi sambil menangis dan memegang Andre dengan perasaan yang bahagia. Andre-pun pamit dan segera pulang kerumahnya dengan perasaan yang ingin cepat-cepat esok hari.
Pagipun tiba, Andre terburu-buru pergi ke rumah sakit untuk menemui kekasihnya lagi. Sesampainya di rumah sakit, keadaan disana sangat genting. Kakek dan nenek menangis, dokter dan suster sedang berusaha menyadarkan Pelangi. Namun takdir berkata lain, di pagi itu Pelangi menghembuskan nafas terakhirnya. Andre tak kuasa menahan kepedihannya yang sangat dalam, mengapa wanita yang baru saja dia cintai begitu cepat di panggil tuhan. Selepas kepergian kekasihnya, Andre sesekali pergi ke tepi danau menunggu hujan dan menikmatinya, dengan penuh harapan ada pelangi untuk mengenang kisah cintanya.

Sabtu, 16 Juli 2016

I Won't Forget You

When I first ' met ' you I thought you weren't going to be as important as you are now. We became friends, then best friends. I was able to tell you anything , and the same for you. Our late night conversations seemed endless. You suddenly became single! I was sad yet somewhat happy. I was sad since the person you had broken up with was my best friend. But I guess I was also a bit happy since I had developed a small secret crush on you. Then and there you asked me out. The break up happened through text messages as well as when you asked me out. I stupidly said yes.

You went on and on about how happy you were to call me yours. We kept a secret from your ex ( my best friend ), just because we thought it was to soon. You told me you just couldn't hold it in and told her. She took it pretty good, then again I think she didn't. When they were together, she had mentioned how much she loved him, and that he was the first person she actually had deep feelings for. So then about a week later we had an argument. Which ended our relationship. But we stayed friends obviously. You started talking to your ex again. You told her the exact same words you told me. So it was obvious that you trying to get with her again.

And it worked. You guys got back together while I just stood there pretending I was happy. Don't get me wrong I was obviously happy I mean she is my best friend. But I was heartbroken. So then that ended. We kept having "on and off relationships". I hated it. I wanted so badly to call you mine. But when I had the chance to do that, it was only for a short time since our relationships only lasted about a week. I felt so used . You broke up with me after saying you loved me, you had me thinking I did something, that it was my fault. You would always bring up your current girlfriends and I would say I'd be happy for you. Which I actually was because then again we were close friends. We would still hangout, which would be fun. You would always make me feel better when I was down. Thing was that when we did hang out, we got close, too close. We acted as if we were more than friends. In a way, I enjoyed it. But i also had to come back to reality, which is when I would realize that we weren't actually dating.

About a month later , I hung out with her again. She had told me what you have said about me. Stuff like " I think shes the one." When she told me that my heart lit up. I tried not to smile but it just came out. But again I realized that, that was in the past and now its all gone. We stopped talking for some reason. We just drifted apart. Months later you texted me and we started to hang out again. I remember you hugging me tightly and telling me how much you missed me. I loved it. 2015 came months later. That was the year we kissed. I'm pretty sure it was someday in February. When your lips met with mine it felt like everything around me just disappeared. I honestly hoped you felt the same. I remember I pulled away because I thought of my best friend. You wanted to keep going but I wanted to be a good friend like always. Hope you weren't disappointed. Later that day we kissed again . It was longer and same as the first, it felt amazing (even though you weren't my first kiss). When we both pulled away you hugged me and said " Aww you're shaking .... it's ok." You made feel secure.

After a few days we hung out again. It was a Monday. You came over and we hung out. It was pretty fun, like always. You got a call and told me you had to go since you had soccer practice. I understood but I didn't want you to go. You gave me a quick hug and told me that you'll come over tomorrow . I knew it wasn't true. I was right you didn't come or even text me. I was able to tell on how you hugged me. Sounds weird but its true. The hug you gave me was surprisingly quick. You've never hugged me like that before. We didn't talk for months straight until you texted me. You have no idea how happy I was. But sadly for me, that didn't last long. My best friend would bring you up numerous times. When she did my heart sank? Just knowing the fact that you're not busy or anything and yet not texting me irritated me. Did I do something? You had these questions going on in my head for days. Eventually I was somewhat starting to get over you. But little things that would pop up in my head led to me thinking of you.

About a month passed. I hung out with my friend again. This was recently actually. On the last few hours of our day together, she invited you over. It was awkward and I know you felt the same way. It felt like I was meeting you for the very first time again. I completely hated it. After everything, this is where we end up now. Not even a " Hi ." Sometimes I think to myself, " Yeah, there is other people I'm going to meet along the way. " But you always end up coming back. I still miss you. It's hard not thinking about you. I know you don't feel the same way. I was told that you now have a girlfriend. Its now May 6, and still nothing from you. I'll still be thinking about you whether you're doing the same or not. I miss you.