Jumat, 24 Juni 2016

MUNGKIN CINTA MATI

Cewek aneh itu mengintip dari balik bukunya di bangku taman sekolah yang menghadap ke lapang basket. seseorang yang bermain di lapang basket itu bermain sangat cantik. para wanita memujanya dengan meneriakkan namanya. tiba-tiba



"Hayyooow" tak ada jawaban. lalu Ernes melihat ke arah lapang basket itu.



"Hmm, Ryan lagi. Gak ada bosennya ya elu ngeliatin dia. Tiap hari ketemu juga"



"Yee, biarin dong. Dia kan pacar gue. Lo kenapa ? Sirik ?"



"Haahaha ngapain gue sirik ? Yah, emang sih elo berdua kalo pacaran mesra. Tapi, kalo ga ada orang tau kalian pacaran ya buat apa sirik ?"



"Yah, Elo sih harusnya sirik. Kan elu ga punya pacar. Lagian elo juga ga pernah jatuh cinta gue rasa"



"Kata siapa ? Gue pernah jatuh cinta. <alah gue sekarang lagi jatuh cinta. Lo ga kenal gue. Jangan sok tau." lalu Ernes lari meninggalkan Puri.





Di atap sebuah gedung, Ernes marah besar.

"Puurii !!! kapan lo ngerti perasaan gue ? lo kejam sama gue rii,lo kejam ! susah payah gue deketin loo nyari rau segala hal tentang elo. tapi, lo ga pernah paham perasaan gue, rii. gue cinta sama lo, Puri". teriak Ernes. hatinya hancur, karena ia menyadari bahwa puri tak mengerti perasaannya yang selama ini mencintainya.



Sore hari Puri datang ke rumah Ernes. ia ingin bertemu dengan Ernes. ingin ngobrol dengan sahabatnya itu. tapi, ketika sampai disana ia melihat rumah Ernes sepi. yang ada hanya Puma, kucing kesayangannya Ernes. Puri kecewa, tapi ia berkata



"mungkin Ernes lagi ngunjungin Oom Erik dan Tante Nessa. kalo aku ganggu, nanti dia marah. sudah ahh aku pulang aja"



baru saja Puri melajukan mobilnya, Ernes turun dari taksi, ia berjalan dengan langkah gontai. bahkan tak memedulikan Puma. lalu ia masuk rumah mengunci pintu, kemudian masuk kamar dan tertidur. ia tak mau memikirkan apapun sekarang.



keesokan harinya di sekolah, Puri menemui Ernes.

"Nes, hari ini loo maen dong ke rumah gue. mau ada Ryan. tapi gue takut sama bunda. loo maen yaa ?"

"ga bisa. gue ada janji sama Ratna"

lalu Ernes pergi tanpa pamit. Puri melongo, melihat Ernes dan Ratna naik bus berdua. satu sisi ia bahagia karena Ernes akhirnya jatuh cinta. tapi, di sisi lain ia kaget akan sikap Ernes yang dingin.



tak lama kemudian setelah kejadian itu. merembak kabar bahwa Ratna dan Ernes jadian. karena itu hubungan antara Ernes, Puri dan Ryan merenggang. Ernes sudah tak pernah lagi main ke rumah Puri. akibatnya Puri jadi sering berantem dengan Ryan.

"lo kenapa sih ? lo berubah, udah ga kocak kaya dulu. please rii, jangan bikin gue khawatir. gue ini pacar elo, gue berhak tau apa yang terjadi sama elo"

"gue juga ga tau apa yang terjadi. mungkin karena Ernes punya pacar baru".



"hah ? sepenting itu ya dia dimata lo ? sampe kekhawatiran gue elo ga perhatiin. rii, dia itu baru jadian, wajar dong lupa daratan. kaya kita dulu" kata ryan menjelaskan pada pacarnya itu.



"iya gue tau itu yan, tapi ..."



"udahlah. ga usah dipikirin. selama ini semua masih wajar kita biarin aja. kita kan punya urusan masing-masing sayang. jadi jangan diganggu" kata Ryan yang saat itu sangat menghibur Puri. sehingga puri tak lagi memikirkan masalah ini.



suatu siang di sekolah. Puri menghampiri Ernes.



"Nes liat. frame kacamata baru. dibeliin Ryan lho. haha kemaren gue jalan-jalan sama dia. eh ternyata dia ngajak gue keoptik dan beli frame kacamata baru. oooohh ... so sweet banget deh pokoknya pacar gue itu"



"udah ceritanya ? kalo udah , gue mau pergi. makan sama Ratna" kata Ernes sangat dingin.



sakit sekali hati Puri mendengarnya. dia sudah tak tahan lagi dengan sikap Ernes.

"Nes, lo kenapa sih ? gue punya salah apa sama lo ? sampe lo kaya gini sama gue. ngomong dong nes ! gue ga tahan kalo harus diginiin sama sahabat gue sendiri !"



air mata Puri udh ga bisa dibendung lagi. ia menangis. tersedu-sedu. namun, Ernes hanya menatapnya sedih. ia ingin sekali memeluk Puri, cewe yang sangat dicintainya itu. tapi ketika ia akan memeluknya. datanglah Ryan. memeluk Puri dan membawanya pergi. sambil berkata pada Ernes.



"LOO MASIH PUNYA URUSAN SAMA GUEE !!!!!"



sejak kejadian itu Ernes tak pernah masuk sekolah. seharii.. dua hari ...

sampai seminggu kemudian ....



"ini ga mungkin Ryan. dia ga mungkin ninggalin gue."



"sabar sayang. sekarang ayo kita ke rumahnya" ajak Ryan. membopong tubuh mungil Puri yang lemah karena kaget.



di rumah Ernes hanya ada tokoh warga, warga sekitar, guru-guru serta teman-teman. orang tua Ernes adalah anak tunggal sehingga tak memiliki saudara. dan mereka telah meninggal sejak Ernes balita. dan Ernes dikirim ke panti asuhan. setelah dewasa, Ernes diambil oleh bekas pembantu Tante Nessa dan Oom Erik, orangtua Ernes. dan sejak pembantunya meninggal, akhirnya Ernes benar-benar sebatang kara.



Puri langsung menghampiri jasad Ernes.

"kenapa harus kaya gini nes ? kenapa harus di saat kita pecah ?"

"Sayang udah. ikhlasin dia. biarin dia tenang. kamu harus berdoa agar dia diterima di sisi Tuhan yang Mahakuasa.



Ernes selesai dimakamkan. Puri begitu lemas. hatinya hancur. hingga tak ada lagi air mata yang bisa ia keluarkan. tapi, ia terkejut. ketika tiba- tiba ada Ratna menghampirinya.

"Rii, gue minta maap sama lo. gue ngebohongin lo".

"Bohong apa na ?"

"Sebenernya ...."

Kemudian lama mereka bicara. sekarang terungkaplah semuanya sekarang. Ratna bukan pacar Ernes. tapi, dia teman kecil Ernes waktu di panti asuhan. Ratna di sini karena dia harus merawat Ernes yang sakit. Ernes terjangkit kanker tulang. Ernes meninggal karena penyakit itu.



"Satu hal lagi yang harus lo tau ri, selama gue disini. dia selalu menangis kalo ada hal yang berhubungan sama lo. dia juga selalu bilang. dia akan selalu hidup selamanya demi Puri. Rasa cinta yang dimiliki dia buat lo itu besar bnanget."



"Cinta ??? apa maksudnya na ?"



"Cinta rii, lo inget waktu dia terakhir sekolah ? kalian berantem kan ? nah pas pulang ke rumah, dia ga mau makan. ga mau minum. karena dia liat lo nangis. dia merasa bersalah rii."



"Ya Tuhan, Ernes, kenapa lo ga pernah cerita sama gue? "



"Dan rii, yang paling menyakitkan adalah, sebelum dia meninggal dia nunggu elo. dia bilang lo sama dia punya ikatan batin. dia pasti datang. dan ketika dia benar-benar meninggal. dia tetap nungguin lo"



Kemudian Puri duduk bersimpuh di lantai

"Maafin gue nes, andai gue tau ini semua. pasti ini ga akan kaya gini"



Lalu Ryan memeluk Puri dengan erat.



SELESAI

KETELADANAN, MASIH RELEVANKAH?

Memandang Suatu Bentuk Teladan
Bagi sebagian orang, mungkin banyak hal yang membutuhkan bukti dan bukannya suatu teori yang bertele-tele. Suatu contoh sederhana saja misalkan, ada suatu nilai kejujuran yang ingin ditanamkan dalam sebuah lembaga pendidikan dan berbagai upaya dilakukan untuk mewujudkan nilai kejujuran itu. Nilai kejujuran itu diupayakan dalam bentuk “Kantin Kejujuran” yang sudah cukup popular di kalangan pelajar, namun banyak yang tidak menerapkan atau mewujudkan nilai kejujuran itu dan bahkan banyak ketidakjujuran yang terlihat.
Hal yang sederhana itu dapat membentuk suatu pandangan yang kontradiksi dengan apa yang telah menjadi paradigma bagi orang yang mencoba untuk mewujudkan suatu nilai itu. Tak mudah untuk menanamkan sebuah nilai luhur yang memiliki pengaruh kuat bagi kehidupan politik, ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat luas. Yang menjadi kebutuhan bagi masyarakat dunia saat ini adalah bentuk keteladanan dalam mewujudkan serta menanamkan nilai luhur tersebut. Pada saat ini, masih banyak opini-opini masyarakat yang lebih banyak menuntut adanya perubahan dalam penanaman nilai kehidupan. Namun dalam pandangan Gereja universal, keteladanan dapat diciptakan dan diwujudkan melalui kesaksian hidup yang tetap berpusat pada karya Roh Kudus dalam pengalaman hidup sehari-hari.
Relevansi Keteladanan Saat Ini
Dalam Gereja saat ini, keteladanan hidup yang masih bisa dilihat adalah kesaksian hidup dari Bapa Suci Fransiskus. Kita lihat saja pada saat Perayaan Kamis Putih, Bapa Suci memperlihatkan sikap belas kasih Gereja dengan membasuh dan mencium kaki 12 orang narapidana muda suatu penjara di Roma. Perwujudan keteladanan yang mulia ini, membuka mata hati seluruh umat Allah bahwa Kristus menyapa orang-orang yang menderita dan terpenjara sebagaimana yang telah dilakukan oleh Bapa Suci Fransiskus. Sama halnya dengan apa yang dikatakan oleh Yesus sendiri"Roh Tuhan ada pada-Ku,oleh sebab Ia telah mengurapi Aku , untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan  telah datang." (Luk. 4: 18-19), bahwa setiap manusia diundang untuk memberikan keteladanan melalui kesaksian hidup yang berlandaskan atas cinta kasih pada sesama.
Relevansi nilai keteladanan bagi kehidupan manusia saat ini, dapat digambarkan melalui sosok-sosok yang pernah menghiasi lembaran sejarah dunia. Sebagai contoh, Alm. Nelson Mandela yang memperjuangkan persamaan hak tanpa memandang warna kulit dan dari contoh ini, keteladanan yang ingin diambil adalah sikap belarasa akan penderitaan orang lain yang terdiskriminasikan atau terpinggirkan. Bagaimana hal itu bisa diwujudkan dan apakah hal itu masih relevan? Tentu saja keteladanan masih relevan di tengah perkembangan zaman saat ini dan bentuk perwujudannya adalah dengan memperjuangkan nilai hidup dan membagikannya melalui kesaksian hidup.
Yesus sendiri memberikan suatu kesaksian dalam tugas perutusan yang diberikan oleh Allah Bapa melalui tindakan cinta kasih-Nya kepada semua orang yang menderita. Begitu pula dengan Gereja yang terus mengarungi zaman ini untuk menghadirkan pribadi Yesus di tengah globalisasi dunia. Yang menjadi kebutuhan akan teladan bagi semua umat Allah adalah teladan belas kasih Gereja (Act of Charity) yang menyapa semua umat beriman Allah. Melalui sikap belas kasih itu, Gereja hendak menghantarkan semua umat Allah kepada kebenaran sejati yang dihadirkan dalam keteladanan belas kasih Gereja.

JANGAN TERJEBAK NOMOPHOBIA!!

Dunia dewasa ini telah memasuki era baru, yaitu era multidimensional yang didukung oleh perkembangan teknologi yang semakin mutakhir. Tidak dipungkiri lagi bahwa perkembangan zaman tersebut juga mengubah struktur kehidupan masyarakat yang “terjerumus” ke dalam perkembangan tersebut. Salah satu teknologi yang sangat populer di kalangan masyarakat zaman ini adalah telepon seluler atau handphone dan alat teknologi ini sudah banyak dimiliki oleh orang-orang dari kalangan atas hingga kalangan bawah. Lantas apakah yang salah dengan teknologi tersebut? Akhir-akhir ini terdapat fenomena baru yang dialami oleh sebagian besar masyarakat yang dinamakan dengan nomophobia. Nomophobia (No Mobile-phone Phobia) merupakan sindrom psikologis yang mengakibatkan seseorang mengalami perasaan takut, khawatir, dan cemas saat tidak menggunakan gadget untuk sementara waktu. Munculnya sindrom ini menjadi tidak beralasan karena orang-orang semakin terjerumus pada ketergantungan yang sedemikian berat pada alat-alat elektronik, terlebih handphone, di kalangan masyarakat, terkhusus remaja.
Situasi semacam ini disebabkan oleh suatu pencitraan yang semu dari peralatan teknologi yang oleh seorang filsuf kontemporer asal Perancis, Jean Baudrillard, disebut simulacra. Menurut Baudrillard, model realitas di dalam teknologi (handphone) tersebut memang sepintas nyata, tetapi ia sesungguhnya tidak menggambarkan kenyataan yang sebenarnya. Kecenderungan yang mengakibatkan munculnya nomophobia tersebut disebabkan oleh beralihnya fokus masyarakat dari kehidupan dunia nyata menuju kehidupan dunia virtual (kecanduan game online, media sosial, dll.). Oleh Baudrillard, masyarakat diandaikan telah terobsesi pada suatu dimensi virtual yang tersimulasikan dengan kecepatan informasi. Apakah kegiatan atau aktivitas yang dilakukan dalam dunia virtual merupakan suatu hal yang real, sama seperti di dunia nyata? Jawabannya tentu tidak. Virtual, dengan demikian, berarti menangkap kegiatan dan objek alamiah yang ada namun tidak berwujud, tidak konkret. Alhasil, handphone yang menjadi “penyebab” utama dari sindrom nomophobia yang menjangkiti banyak kaum muda merupakan suatu benda yang tidak real, dalam artian, memberi jarak pada manusia pada setiap aktivitas maupun relasi yang dilakukan dengan orang lain. Dengan demikian, manusia sudah terkikis eksistensinya melalui keberadaan handphone yang membatasi gerak ruang aktivitas manusia di dunia nyata dan beralih ke dunia maya atau virtual.
Ketakutan akan semakin jauhnya intensitas relasi manusia dengan gadget, menjadikan manusia terbelenggu sehingga tidak bebas dalam penggunaan perangkat teknologi. Inti dasar yang menjadi karakteristik dari teknologi yang perlu diingat lagi adalah bahwa teknologi dapat membawa perubahan dalam cara hidup manusia, dengan kata lain, teknologi tertanam dan sekaligus berdampak pada budaya manusia. Begitu juga halnya dengan nomophobia, teknologi seakan-akan mengikat manusia hingga tataran yang adiktif dan membuat manusia menjadi bergantung sepenuhnya pada teknologi tersebut. Sebaliknya, nomophobia menjadi tidak perlu karena hal tersebut dapat diatasi dan ditangani sendiri, jika muncul kesadaran dari dalam diri sendiri untuk membatasi penggunaan teknologi dan bukan menjadikan teknologi sebagai bagian yang absolut dari kebutuhan hidup manusia.

Penggunaan perangkat teknologi akan mengalami degradasi nilai guna apabila perangkat teknologi menjadi sebuah prestise atau tolok ukur status seseorang. Pemikiran semacam itulah yang perlahan-lahan memunculkan ketakutan-ketakutan untuk bisa lepas dari perangkat teknologi yang dimiliki meskipun untuk sebentar saja. Apakah perangkat teknologi merupakan suatu sarana pendukung komunikasi antar individu ataukah hanya sekedar alat pemuas hasrat individu belaka? Bisa jadi, pertanyaan ini akan menimbulkan banyak jawaban yang bertentangan satu sama lain. Namun yang perlu untuk diperhatikan adalah teknologi hanyalah alat bantu manusia dalam beraktivitas dan bukan alat yang harus di-”dewa”-kan, sehingga manusia era ini perlu untuk mengubah pola pikir dan pola perilaku terhadap perangkat teknologi yang dimiliki.