Selasa, 06 Desember 2016

SELAMAT JALAN, NEK...

   Saat mentari terbit pagi ini, aku hanya tersenyum melihat matahari terbit dan memancarkan sinarnya ke dunia ini. Dan saat-saat yang ku tunggu telah datang. Aku dan semua keluargaku selalu pergi ke rumah nenek yang letaknya agak jauh dari rumahku yaitu di Klaten, Jawa Tengah untuk berkunjung bersama seluruh keluarga besarku. Sebenarnya aku dan kakak-kakakku tak mau ikut pergi kerumah nenek tapi entah mengapa ayah tetap mendesak kami untuk ikut pergi bersamanya, ayah hanya mengucapkan satu hal pada kami, "Bagaimana jika kalian tak dapat melihatnya lagi?”, dan kami pun hanya terdiam mendengar perkataan ayah yang membuat kita tak mengerti mengapa ayah mengucapkan kata-kata itu. Tetapi aku tak merasakan ada yang aneh dengan perkataan ayah, ayah memang selalu menyuruh kita untuk selalu ikut pergi kerumah nenek karena memang kita sangat jarang bertemu karena memang keadaan yang tak memungkinkan tuk kita selalu bertemu
    Saat sesampainya di rumah nenek ku melihat jam yang menunjukkan pukul 16.00 WIB, seperti biasa kami langsung pergi menuju kamar nenek yang tak terlalu jauh. Tetapi saat ini kumerasa ada yang aneh dengan nenek. Biasanya jika kami datang ia langsung menangis dan memeluk kami erat-erat, tetapi ini memang sih seperti biasa ia langsung memeluk kami dengan eratnya tetapi ia hanya tersenyum tanpa ada air mata yang jatuh membasahi pipinya.
   Nenek yang sejak beberapa tahun yang lalu mengidap penyakit stroke yang sudah cukup lama.kami semua sudah mencoba membawa nenek kerumah sakit manapun tetapi apa hasilnya? Ia tetap saja seperti itu. Baru kali ini aku mengenal nenek yang sangat tegar dalam menghadapi semua cobaan. Ia adalah nenek yang sangat kukagumi ia sangat kuat dalam menghadapi penyakitnya tak pernah ku mendengar ia mengeluh dan merintih kesakitan karena penyakitnya, ia adalah nenek yang sangat kuat yang pernah ku kenal selama ini.
    Ia pernah berkata padaku walau aku tak seberapa mengerti apa yang ia ucapkan karna cara ia berbicara sangat terbata-bata dan susah untuk mengatakan kata-kata dari mulutnya akibat penyakit yang dideritanya selama ini yang aku pahami intinya adalah kalau ia sangat menyayangiku lebih dari apapun di dunia ini, mungkin aku baru menyadari kasih sayangnya yang sangat besar selama ini padaku. tetapi aku merasa ada yang aneh akhir-akhir ini, aku sangat sering melihat raut wajah nenek yang sangat cantik dan bahagia, mungkin karena semua anak-anaknya ngumpul besamanya karna jarang sekali saat-saat bahagia itu datang jika memang tidak ada acara atau keadaan yang sangat penting disini.
   Sebelum aku melihat nenekku aku bertanya kepada Tuhan “ Tuhan mengapa kau mengambilnya secepat ini??, mengapa kau memanggilnya sekarang??, Tuhan jika ku dapat memutar waktu ku ingin membuatnya bahagia di sisa-sisa hidupnya, Tuhan aku tak dapat melihat ia tertidur untuk selamanya, Tuhan apakah ia memiliki salah kepadamu walau aku tau ku tak dapat melawan takdir yang telah kau gariskan”.  
   Saat ku mulai mencoba untuk menengok ke arah nenek, saat itu pun baru kusadari bahwa nenek yang sangat kusayangi telah pergi meninggalkanku dan meninggalkan semua yang menyayanginya di dunia ini untuk selama-lamanya dan tak akan pernah bisa ia kembali lagi ke sisi kami semua di sini. Aku pun mulai berkata dalam hati, Nenekku tersayang, cucumu datang nek. Maafkan cucumu ini yang baru datang. Tapi rasa cinta dalam hatiku tak pernah berkurang walau terkadang aku berada dalam kekhilafan. Cucumu begitu merindukanmu Nek!"  
   Tak lama aku menatap nenek yang sedang terbujur kaku di ranjang tidurnya sendiri karna ku tak dapat melihat nenek yang sangat kusayangi itu pergi meninggalkanku. Tak kusadari air mata ini mulai jatuh sedikit demi sedikit dan tak henti-hentinya terus mengalir di pipiku, tlah ku coba untuk menahan air mata ini agar tak jatuh lagi tapi sulit sekali menahan air mata ini mungkin karena aku masih terpukul dan shock untuk menerima semua hal yang telah terjadi.
  "Walau rasa rindu ini tak akan pernah terobati lagi, tetapi percayalah cucumu akan selalu mendoakanmu dalam setiap sujudnya. Salam cintaku untukmu Nek, tenanglah di sana! Selamat tinggal, Nek.”