Berbicara soal etika,
filsafat memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan dunia secara
keseluruhan, terlebih pada perkembangan Gereja hingga saat ini. Etika memberi
perhatian yang lebih pada permasalahan mengenai kehidupan manusia dalam
bertindak. Mengapa etika dianggap perlu untuk menentukan arah tindakan manusia?
Franz Magnis-Suseno dalam bukunya, Etika
Dasar (1987: 15), menyatakan bahwa etika hendak menyediakan orientasi atau
tujuan. Setiap tindakan manusia perlu memerhatikan moralitas dan hubungan itu
saling berkaitan satu sama lain. Manusia memiliki suatu tujuan tertentu dalam
melakukan suatu tindakan, terlebih dalam kehidupan bermasyarakat yang semakin
pluralistik seperti saat ini.
Lantas, bagaimana
kaitan antara etika dan Gereja? Etika sendiri memang tidak dapat menggantikan
agama dan juga tidak bertentangan dengan agama, bahkan sangat diperlukan. Perlu
digarisbawahi bahwa Gereja memiliki tujuan untuk menghimpun seluruh jemaat
Allah agar mampu menjalankan hidupnya dengan baik dan saleh. Saya melihat bahwa
terdapat relevansi yang konkret dengan adanya etika ini bagi perubahan di dalam
Gereja. Secara historis, reformasi Gereja dimulai oleh Martin Luther
(1484-1546) melalui pernyataan-pernyataannya yang mengecam sistem birokrasi
Gereja Katolik Roma yang kacau. Dari peristiwa besar dalam sejarah ini,
tindakan yang dilakukan oleh Luther merupakan suatu bukti bahwa etika
mendasarkan pada tanggung jawab individu. Luther memiliki tanggung jawab untuk
mengarahkan Gereja pada yang seharusnya atau pada kebenaran, bukan malah
meneruskan kebobrokan moral yang terjadi kala itu. Etika diinterpretasikan
sebagai usaha manusia untuk memakai akal budi dan daya pikirnya untuk
memecahkan masalah bagaimana ia harus hidup kalau ia mau menjadi baik (Franz
Magnis-Suseno, 1987: 17).
Di zaman ini, semakin
banyak orang yang meninggalkan moral dalam tindakan mereka setiap hari, bahkan
mereka tidak tahu menahu bahwa tindakan mereka benar atau salah. Sudah
seharusnya, manusia kembali melihat seluruh tindakannya dalam pandangan moral
dan tidak mendasarkan pada ajaran agama-agama atau ideologi-ideologi tertentu.
Setiap tindakan perlu moralitas untuk menentukan teleos atau tujuan atas motif tindakan itu dilakukan. Gereja
sendiri juga memberikan tujuan, mau diarahkan pada apa setiap tindakan dari
umat-umatnya. Manusia harus tahu di mana mereka berada, dan ke arah mana mereka
harus bergerak untuk mencapai tujuannya. Dalam Konsili Vatikan II, Paus Yohanes
XXIII sangat giat mendengungkan semangat “Aggiornamento”
yaitu bahwa Gereja harus senantiasa mereformasi atau memperbarui diri seturut
dengan perkembangan zaman. Melalui semangat inilah, Gereja menyeimbangkan diri
dengan arus zaman yang sedang berkembang agar tidak hanyut dan tetap
mempertahankan eksistensinya.
Dampak dari etika
terhadap reformasi Gereja sangat signifikan, terlebih bagi pendidikan
Kristiani. Secara implisit, etika ditanamkan di dalam keluarga oleh orangtua
kepada anak-anak melalui norma-norma atau aturan-aturan yang sederhana. Pendidikan
etika di dalam keluarga Kristiani ini lantas tumbuh dan mendarah daging hingga teraplikasikan
pada hidup menggereja. Kebebasan dalam bertindak yang dimiliki oleh manusia, menentukan
arah dan tujuan hidup mereka sehingga pilihan hidup tiap orang pun berbeda. Hal
ini yang saya rasakan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Contohnya,
pendidikan calon pastur Gereja Katoluk di dalam seminari, menitikberatkan pada
kebebasan individu dalam bertindak serta kemandirian dalam menentukan pilihan. Saya
sendiri merasakan bahwa etika membuat saya semakin bertanggungjawab dalam
menentukan arah tindakan saya, terlebih sebagai seorang calon pastur Gereja
Katolik. Etika sangat diperlukan dan sangat relevan bagi kemandirian pribadi di
tengah arus modernisasi ini, sebab tindakan yang saya lakukan saat ini akan
memberi dampak yang besar bagi kehidupan saya di masa yang akan datang.
Reformasi Gereja tidak
dimulai dalam skala yang masif, melainkan dalam skala yang kecil dan dari
tiap-tiap anggota Gereja itu sendiri. Di sinilah peran etika mulai dibutuhkan
untuk menentukan arah dan tujuan hidup tiap individu. Saya sangat bersyukur
karena etika memberikan arah dan tujuan yang semakin jelas dalam hidup saya
sebagai seorang calon pastur Gereja Katolik. Saya memilih menjadi seorang calon
pastur secara bebas dengan dibina di dalam seminari dan saya semakin
bertanggungjawab dengan apa yang saya pilih. Melalui etika itulah, saya mampu
mereformasi diri saya dan semakin mengenal arah tindakan saya serta
pilihan-pilihan yang saya pilih, sehingga saya mampu untuk mengusahakan
reformasi serta perubahan yang baik bagi Gereja Katolik.