Senin, 24 Oktober 2016

ETIKA DAN REFORMASI GEREJA



Berbicara soal etika, filsafat memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan dunia secara keseluruhan, terlebih pada perkembangan Gereja hingga saat ini. Etika memberi perhatian yang lebih pada permasalahan mengenai kehidupan manusia dalam bertindak. Mengapa etika dianggap perlu untuk menentukan arah tindakan manusia? Franz Magnis-Suseno dalam bukunya, Etika Dasar (1987: 15), menyatakan bahwa etika hendak menyediakan orientasi atau tujuan. Setiap tindakan manusia perlu memerhatikan moralitas dan hubungan itu saling berkaitan satu sama lain. Manusia memiliki suatu tujuan tertentu dalam melakukan suatu tindakan, terlebih dalam kehidupan bermasyarakat yang semakin pluralistik seperti saat ini.
Lantas, bagaimana kaitan antara etika dan Gereja? Etika sendiri memang tidak dapat menggantikan agama dan juga tidak bertentangan dengan agama, bahkan sangat diperlukan. Perlu digarisbawahi bahwa Gereja memiliki tujuan untuk menghimpun seluruh jemaat Allah agar mampu menjalankan hidupnya dengan baik dan saleh. Saya melihat bahwa terdapat relevansi yang konkret dengan adanya etika ini bagi perubahan di dalam Gereja. Secara historis, reformasi Gereja dimulai oleh Martin Luther (1484-1546) melalui pernyataan-pernyataannya yang mengecam sistem birokrasi Gereja Katolik Roma yang kacau. Dari peristiwa besar dalam sejarah ini, tindakan yang dilakukan oleh Luther merupakan suatu bukti bahwa etika mendasarkan pada tanggung jawab individu. Luther memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan Gereja pada yang seharusnya atau pada kebenaran, bukan malah meneruskan kebobrokan moral yang terjadi kala itu. Etika diinterpretasikan sebagai usaha manusia untuk memakai akal budi dan daya pikirnya untuk memecahkan masalah bagaimana ia harus hidup kalau ia mau menjadi baik (Franz Magnis-Suseno, 1987: 17).
Di zaman ini, semakin banyak orang yang meninggalkan moral dalam tindakan mereka setiap hari, bahkan mereka tidak tahu menahu bahwa tindakan mereka benar atau salah. Sudah seharusnya, manusia kembali melihat seluruh tindakannya dalam pandangan moral dan tidak mendasarkan pada ajaran agama-agama atau ideologi-ideologi tertentu. Setiap tindakan perlu moralitas untuk menentukan teleos atau tujuan atas motif tindakan itu dilakukan. Gereja sendiri juga memberikan tujuan, mau diarahkan pada apa setiap tindakan dari umat-umatnya. Manusia harus tahu di mana mereka berada, dan ke arah mana mereka harus bergerak untuk mencapai tujuannya. Dalam Konsili Vatikan II, Paus Yohanes XXIII sangat giat mendengungkan semangat “Aggiornamento” yaitu bahwa Gereja harus senantiasa mereformasi atau memperbarui diri seturut dengan perkembangan zaman. Melalui semangat inilah, Gereja menyeimbangkan diri dengan arus zaman yang sedang berkembang agar tidak hanyut dan tetap mempertahankan eksistensinya.
Dampak dari etika terhadap reformasi Gereja sangat signifikan, terlebih bagi pendidikan Kristiani. Secara implisit, etika ditanamkan di dalam keluarga oleh orangtua kepada anak-anak melalui norma-norma atau aturan-aturan yang sederhana. Pendidikan etika di dalam keluarga Kristiani ini lantas tumbuh dan mendarah daging hingga teraplikasikan pada hidup menggereja. Kebebasan dalam bertindak yang dimiliki oleh manusia, menentukan arah dan tujuan hidup mereka sehingga pilihan hidup tiap orang pun berbeda. Hal ini yang saya rasakan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Contohnya, pendidikan calon pastur Gereja Katoluk di dalam seminari, menitikberatkan pada kebebasan individu dalam bertindak serta kemandirian dalam menentukan pilihan. Saya sendiri merasakan bahwa etika membuat saya semakin bertanggungjawab dalam menentukan arah tindakan saya, terlebih sebagai seorang calon pastur Gereja Katolik. Etika sangat diperlukan dan sangat relevan bagi kemandirian pribadi di tengah arus modernisasi ini, sebab tindakan yang saya lakukan saat ini akan memberi dampak yang besar bagi kehidupan saya di masa yang akan datang.
Reformasi Gereja tidak dimulai dalam skala yang masif, melainkan dalam skala yang kecil dan dari tiap-tiap anggota Gereja itu sendiri. Di sinilah peran etika mulai dibutuhkan untuk menentukan arah dan tujuan hidup tiap individu. Saya sangat bersyukur karena etika memberikan arah dan tujuan yang semakin jelas dalam hidup saya sebagai seorang calon pastur Gereja Katolik. Saya memilih menjadi seorang calon pastur secara bebas dengan dibina di dalam seminari dan saya semakin bertanggungjawab dengan apa yang saya pilih. Melalui etika itulah, saya mampu mereformasi diri saya dan semakin mengenal arah tindakan saya serta pilihan-pilihan yang saya pilih, sehingga saya mampu untuk mengusahakan reformasi serta perubahan yang baik bagi Gereja Katolik.