Selasa, 24 Januari 2017

Matahari dan Bulan (2)

Have you heard how the Moon fell in love with the Sun?

Eons ago, when the Moon and the Sun were still young, they never saw one another. The Moon would look upon the world and see creation change and grow, till one-day man was brought forth. The Moon would hear man talking about the Great Sun and all he did for them. He brought warmth to them, helped the crops grow and was their protector by day as in the night; evil things would prey upon them. This hurt the Moon terribly and for the first time, she turned her back to the world and man. When the Great Sun heard what man had done, he was angry. He said to the world, "You fools. Don’t you know how fortunate you are to have her in the night? She is your light, your guide and the protector of the night. She gives you, every night, all her light and protection she can. She is a heavenly body, the most beautiful of us all and you shun her. Now you wonder why she has turned her back on you? I should do the same!"

Man, fearing the turning of the Great Sun, begged the Moon to return to them. "Oh, Great Moon, whose light and protection you grant on us, please return and guide us once more. We are bowed low in your Grace and Love. Please Great Moon, return and save us from the wrath of the Great Sun. We have shamed him in the way we have treated you and he will turn from us, as you have done. Please Great Moon, return!"

The Great Moon, having heard the call of the world and what the Great Sun had done, began a slow turn to the world. Unsure if she wanted to trust the world again. But as she turned, she would hear more about what the Sun had done and said. Her heart grew warm with his words and longed to see him. In simple words, she was falling in love with the Great Sun. She moved through the night, faster. Trying to see him, her love! Till at last, when the day and the night over lapped, she saw him. The Great Sun turned to her and smiled. He was so please to see her..

"Great Moon", he said. "You have come at last! I have longed to see you." The Great Sun spread his warmth to the Great Moon and embraced her. His warmth filled her and caressed her. Slowly they came together, their first true embrace. From that day forward, when the Great Moon and the Great Sun would come together, we, the world, would call it an eclipse. For their love would shadow the earth in darkness and allow us to see true love!

Matahari dan Bulan (1)



Alkisah dahulu kala matahari dan bulan adalah sepasang kekasih yang selalu bersama sepanjang hari di langit terang dan di langit kelam. Mereka saling mencintai dan tak pernah terpisahkan oleh jarak dan waktu. Bulan selalu mengikuti matahari kemanapun matahari pergi. Bagi bulan, matahari adalah dunianya, sumber cahayanya.

Hingga suatu saat bulan mengeluh pada matahari, “Cahayamu lambat laun mulai terasa panas dan menyakitkan. Cinta ini melekat. Dan makin aku melekat padamu makin aku kesakitan terbakar sinarmu.”
“Aku tidak mengerti dirimu, apa maksudmu dengan cinta ini melekat dan membuatmu sakit?” tanya matahari.
“Cinta ini terikat dalam ego dan nafsu. Aku milikmu. Kau milikku. Semakin melekat, aku semakin takut kehilanganmu dan kau semakin angkuh dengan ketergantunganku. Aku tidak memiliki duniaku sendiri karena dunia yang kulihat hanya dirimu.”
“Lalu apa yang kau inginkan?” tanya matahari lagi.
“Ijinkan aku pergi seorang diri, beri aku duniaku sendiri. Kau bisa mencari penggantiku kalau kau mau,” jawab bulan.
“Tapi aku mencintaimu,” bantah matahari.
“Tolonglah aku, aku tak ingin cinta seperti ini. Aku tak ingin dimiliki dan memiliki. Aku mencintai kebebasanku sama seperti aku mencintai kebebasanmu.”
“Tidak. Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu,” ujar matahari bersikeras.
“Itulah egomu,” sahut bulan pasrah.

Matahari belum juga mau melepaskan bulan. Matahari terus mengikat bulan untuk selalu berada di dekatnya, untuk selalu bergantung padanya. Bulan mulai melayu, terpenjara dalam cinta yang membelenggu. Sesak. Pengap.
Melihat penderitaan bulan, hati matahari mulai meleleh. Akhirnya matahari mengalah dan berkata pada bulan, “Baik kalau kau ingin kebebasan dalam duniamu sendiri. Aku akan disini bersama langit terang dan kau akan disana bersama langit kelam. Kita hidup sendiri-sendiri mulai sekarang. Aku berdoa semoga Tuhan selalu menyertaimu dalam setiap langkahmu. Kau akan selalu menjadi kenanganku dan satu-satunya cinta dalam hidupku.”

Sejak saat itu matahari dan bulan berpisah, tidak pernah saling bersua dan berkata. Namun pancaran sinar matahari kepada bulan dari kejauhan adalah bukti bahwa matahari masih selalu mencintai bulan. Dan kali ini cahaya matahari tidak lagi membakar bulan.
Di atas taman langit terang benderang. Matahari kini hanya bersinar seorang diri tanpa bulan di sisinya. Lalu ketika malam tiba matahari menyingkir, membiarkan bulan berkilau bahagia dengan kesendiriannya dalam dunianya yang hening di malam hari. Dan ketika pagi menjelang bulan menepi, membiarkan matahari bersinar cerah dalam dunianya yang ramai di pagi hari.
Bulan masih mencintai matahari tapi kini dengan bentuk cinta yang berbeda. Bulan membebaskan matahari berkelana di langit terang seperti matahari membebaskan bulan mengembara di langit kelam.