Memandang Suatu Bentuk Teladan
Bagi sebagian orang, mungkin banyak hal yang membutuhkan bukti dan bukannya suatu teori yang bertele-tele. Suatu contoh sederhana saja misalkan, ada suatu nilai kejujuran yang ingin ditanamkan dalam sebuah lembaga pendidikan dan berbagai upaya dilakukan untuk mewujudkan nilai kejujuran itu. Nilai kejujuran itu diupayakan dalam bentuk “Kantin Kejujuran” yang sudah cukup popular di kalangan pelajar, namun banyak yang tidak menerapkan atau mewujudkan nilai kejujuran itu dan bahkan banyak ketidakjujuran yang terlihat.
Hal yang sederhana itu dapat membentuk suatu pandangan yang kontradiksi dengan apa yang telah menjadi paradigma bagi orang yang mencoba untuk mewujudkan suatu nilai itu. Tak mudah untuk menanamkan sebuah nilai luhur yang memiliki pengaruh kuat bagi kehidupan politik, ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat luas. Yang menjadi kebutuhan bagi masyarakat dunia saat ini adalah bentuk keteladanan dalam mewujudkan serta menanamkan nilai luhur tersebut. Pada saat ini, masih banyak opini-opini masyarakat yang lebih banyak menuntut adanya perubahan dalam penanaman nilai kehidupan. Namun dalam pandangan Gereja universal, keteladanan dapat diciptakan dan diwujudkan melalui kesaksian hidup yang tetap berpusat pada karya Roh Kudus dalam pengalaman hidup sehari-hari.
Relevansi Keteladanan Saat Ini
Dalam Gereja saat ini, keteladanan hidup yang masih bisa dilihat adalah kesaksian hidup dari Bapa Suci Fransiskus. Kita lihat saja pada saat Perayaan Kamis Putih, Bapa Suci memperlihatkan sikap belas kasih Gereja dengan membasuh dan mencium kaki 12 orang narapidana muda suatu penjara di Roma. Perwujudan keteladanan yang mulia ini, membuka mata hati seluruh umat Allah bahwa Kristus menyapa orang-orang yang menderita dan terpenjara sebagaimana yang telah dilakukan oleh Bapa Suci Fransiskus. Sama halnya dengan apa yang dikatakan oleh Yesus sendiri; "Roh Tuhan ada pada-Ku,oleh sebab Ia telah mengurapi Aku , untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." (Luk. 4: 18-19), bahwa setiap manusia diundang untuk memberikan keteladanan melalui kesaksian hidup yang berlandaskan atas cinta kasih pada sesama.
Relevansi nilai keteladanan bagi kehidupan manusia saat ini, dapat digambarkan melalui sosok-sosok yang pernah menghiasi lembaran sejarah dunia. Sebagai contoh, Alm. Nelson Mandela yang memperjuangkan persamaan hak tanpa memandang warna kulit dan dari contoh ini, keteladanan yang ingin diambil adalah sikap belarasa akan penderitaan orang lain yang terdiskriminasikan atau terpinggirkan. Bagaimana hal itu bisa diwujudkan dan apakah hal itu masih relevan? Tentu saja keteladanan masih relevan di tengah perkembangan zaman saat ini dan bentuk perwujudannya adalah dengan memperjuangkan nilai hidup dan membagikannya melalui kesaksian hidup.
Yesus sendiri memberikan suatu kesaksian dalam tugas perutusan yang diberikan oleh Allah Bapa melalui tindakan cinta kasih-Nya kepada semua orang yang menderita. Begitu pula dengan Gereja yang terus mengarungi zaman ini untuk menghadirkan pribadi Yesus di tengah globalisasi dunia. Yang menjadi kebutuhan akan teladan bagi semua umat Allah adalah teladan belas kasih Gereja (Act of Charity) yang menyapa semua umat beriman Allah. Melalui sikap belas kasih itu, Gereja hendak menghantarkan semua umat Allah kepada kebenaran sejati yang dihadirkan dalam keteladanan belas kasih Gereja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar