Jumat, 24 Juni 2016

JANGAN TERJEBAK NOMOPHOBIA!!

Dunia dewasa ini telah memasuki era baru, yaitu era multidimensional yang didukung oleh perkembangan teknologi yang semakin mutakhir. Tidak dipungkiri lagi bahwa perkembangan zaman tersebut juga mengubah struktur kehidupan masyarakat yang “terjerumus” ke dalam perkembangan tersebut. Salah satu teknologi yang sangat populer di kalangan masyarakat zaman ini adalah telepon seluler atau handphone dan alat teknologi ini sudah banyak dimiliki oleh orang-orang dari kalangan atas hingga kalangan bawah. Lantas apakah yang salah dengan teknologi tersebut? Akhir-akhir ini terdapat fenomena baru yang dialami oleh sebagian besar masyarakat yang dinamakan dengan nomophobia. Nomophobia (No Mobile-phone Phobia) merupakan sindrom psikologis yang mengakibatkan seseorang mengalami perasaan takut, khawatir, dan cemas saat tidak menggunakan gadget untuk sementara waktu. Munculnya sindrom ini menjadi tidak beralasan karena orang-orang semakin terjerumus pada ketergantungan yang sedemikian berat pada alat-alat elektronik, terlebih handphone, di kalangan masyarakat, terkhusus remaja.
Situasi semacam ini disebabkan oleh suatu pencitraan yang semu dari peralatan teknologi yang oleh seorang filsuf kontemporer asal Perancis, Jean Baudrillard, disebut simulacra. Menurut Baudrillard, model realitas di dalam teknologi (handphone) tersebut memang sepintas nyata, tetapi ia sesungguhnya tidak menggambarkan kenyataan yang sebenarnya. Kecenderungan yang mengakibatkan munculnya nomophobia tersebut disebabkan oleh beralihnya fokus masyarakat dari kehidupan dunia nyata menuju kehidupan dunia virtual (kecanduan game online, media sosial, dll.). Oleh Baudrillard, masyarakat diandaikan telah terobsesi pada suatu dimensi virtual yang tersimulasikan dengan kecepatan informasi. Apakah kegiatan atau aktivitas yang dilakukan dalam dunia virtual merupakan suatu hal yang real, sama seperti di dunia nyata? Jawabannya tentu tidak. Virtual, dengan demikian, berarti menangkap kegiatan dan objek alamiah yang ada namun tidak berwujud, tidak konkret. Alhasil, handphone yang menjadi “penyebab” utama dari sindrom nomophobia yang menjangkiti banyak kaum muda merupakan suatu benda yang tidak real, dalam artian, memberi jarak pada manusia pada setiap aktivitas maupun relasi yang dilakukan dengan orang lain. Dengan demikian, manusia sudah terkikis eksistensinya melalui keberadaan handphone yang membatasi gerak ruang aktivitas manusia di dunia nyata dan beralih ke dunia maya atau virtual.
Ketakutan akan semakin jauhnya intensitas relasi manusia dengan gadget, menjadikan manusia terbelenggu sehingga tidak bebas dalam penggunaan perangkat teknologi. Inti dasar yang menjadi karakteristik dari teknologi yang perlu diingat lagi adalah bahwa teknologi dapat membawa perubahan dalam cara hidup manusia, dengan kata lain, teknologi tertanam dan sekaligus berdampak pada budaya manusia. Begitu juga halnya dengan nomophobia, teknologi seakan-akan mengikat manusia hingga tataran yang adiktif dan membuat manusia menjadi bergantung sepenuhnya pada teknologi tersebut. Sebaliknya, nomophobia menjadi tidak perlu karena hal tersebut dapat diatasi dan ditangani sendiri, jika muncul kesadaran dari dalam diri sendiri untuk membatasi penggunaan teknologi dan bukan menjadikan teknologi sebagai bagian yang absolut dari kebutuhan hidup manusia.

Penggunaan perangkat teknologi akan mengalami degradasi nilai guna apabila perangkat teknologi menjadi sebuah prestise atau tolok ukur status seseorang. Pemikiran semacam itulah yang perlahan-lahan memunculkan ketakutan-ketakutan untuk bisa lepas dari perangkat teknologi yang dimiliki meskipun untuk sebentar saja. Apakah perangkat teknologi merupakan suatu sarana pendukung komunikasi antar individu ataukah hanya sekedar alat pemuas hasrat individu belaka? Bisa jadi, pertanyaan ini akan menimbulkan banyak jawaban yang bertentangan satu sama lain. Namun yang perlu untuk diperhatikan adalah teknologi hanyalah alat bantu manusia dalam beraktivitas dan bukan alat yang harus di-”dewa”-kan, sehingga manusia era ini perlu untuk mengubah pola pikir dan pola perilaku terhadap perangkat teknologi yang dimiliki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar