Dunia dewasa ini telah memasuki era
baru, yaitu era multidimensional yang didukung oleh perkembangan teknologi yang
semakin mutakhir. Tidak dipungkiri lagi bahwa perkembangan zaman tersebut juga
mengubah struktur kehidupan masyarakat yang “terjerumus” ke dalam perkembangan
tersebut. Salah satu teknologi yang sangat populer di kalangan masyarakat zaman
ini adalah telepon seluler atau handphone
dan alat teknologi ini sudah banyak dimiliki oleh orang-orang dari kalangan
atas hingga kalangan bawah. Lantas apakah yang salah dengan teknologi tersebut?
Akhir-akhir ini terdapat fenomena baru yang dialami oleh sebagian besar
masyarakat yang dinamakan dengan nomophobia.
Nomophobia (No Mobile-phone Phobia) merupakan sindrom psikologis yang
mengakibatkan seseorang mengalami perasaan takut, khawatir, dan cemas saat
tidak menggunakan gadget untuk
sementara waktu. Munculnya sindrom ini menjadi tidak beralasan karena
orang-orang semakin terjerumus pada ketergantungan yang sedemikian berat pada
alat-alat elektronik, terlebih handphone,
di kalangan masyarakat, terkhusus remaja.
Situasi semacam ini disebabkan oleh
suatu pencitraan yang semu dari peralatan teknologi yang oleh seorang filsuf
kontemporer asal Perancis, Jean Baudrillard, disebut simulacra. Menurut Baudrillard, model realitas di dalam teknologi (handphone) tersebut memang sepintas
nyata, tetapi ia sesungguhnya tidak menggambarkan kenyataan yang sebenarnya.
Kecenderungan yang mengakibatkan munculnya nomophobia
tersebut disebabkan oleh beralihnya fokus masyarakat dari kehidupan dunia nyata
menuju kehidupan dunia virtual (kecanduan game
online, media sosial, dll.). Oleh Baudrillard, masyarakat diandaikan telah
terobsesi pada suatu dimensi virtual yang tersimulasikan dengan kecepatan
informasi. Apakah kegiatan atau aktivitas yang dilakukan dalam dunia virtual
merupakan suatu hal yang real, sama
seperti di dunia nyata? Jawabannya tentu tidak. Virtual, dengan demikian,
berarti menangkap kegiatan dan objek alamiah yang ada namun tidak berwujud,
tidak konkret. Alhasil, handphone
yang menjadi “penyebab” utama dari sindrom nomophobia
yang menjangkiti banyak kaum muda merupakan suatu benda yang tidak real, dalam artian, memberi jarak pada
manusia pada setiap aktivitas maupun relasi yang dilakukan dengan orang lain.
Dengan demikian, manusia sudah terkikis eksistensinya melalui keberadaan handphone yang membatasi gerak ruang
aktivitas manusia di dunia nyata dan beralih ke dunia maya atau virtual.
Ketakutan akan semakin jauhnya
intensitas relasi manusia dengan gadget,
menjadikan manusia terbelenggu sehingga tidak bebas dalam penggunaan perangkat
teknologi. Inti dasar yang menjadi karakteristik dari teknologi yang perlu
diingat lagi adalah bahwa teknologi dapat membawa perubahan dalam cara hidup
manusia, dengan kata lain, teknologi tertanam dan sekaligus berdampak pada
budaya manusia. Begitu juga halnya dengan nomophobia,
teknologi seakan-akan mengikat manusia hingga tataran yang adiktif dan membuat
manusia menjadi bergantung sepenuhnya pada teknologi tersebut. Sebaliknya, nomophobia menjadi tidak perlu karena
hal tersebut dapat diatasi dan ditangani sendiri, jika muncul kesadaran dari
dalam diri sendiri untuk membatasi penggunaan teknologi dan bukan menjadikan
teknologi sebagai bagian yang absolut dari kebutuhan hidup manusia.
Penggunaan perangkat teknologi akan
mengalami degradasi nilai guna apabila perangkat teknologi menjadi sebuah
prestise atau tolok ukur status seseorang. Pemikiran semacam itulah yang
perlahan-lahan memunculkan ketakutan-ketakutan untuk bisa lepas dari perangkat
teknologi yang dimiliki meskipun untuk sebentar saja. Apakah perangkat
teknologi merupakan suatu sarana pendukung komunikasi antar individu ataukah
hanya sekedar alat pemuas hasrat individu belaka? Bisa jadi, pertanyaan ini
akan menimbulkan banyak jawaban yang bertentangan satu sama lain. Namun yang
perlu untuk diperhatikan adalah teknologi hanyalah alat bantu manusia dalam
beraktivitas dan bukan alat yang harus di-”dewa”-kan, sehingga manusia era ini
perlu untuk mengubah pola pikir dan pola perilaku terhadap perangkat teknologi
yang dimiliki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar