Saat
mentari terbit pagi ini, aku hanya tersenyum melihat matahari terbit
dan memancarkan sinarnya ke dunia ini. Dan saat-saat yang ku tunggu
telah datang. Aku
dan semua keluargaku selalu pergi ke rumah nenek yang letaknya agak
jauh dari rumahku yaitu di Klaten, Jawa Tengah untuk berkunjung
bersama seluruh keluarga besarku. Sebenarnya aku dan kakak-kakakku
tak mau ikut pergi kerumah nenek tapi entah mengapa ayah tetap
mendesak kami untuk ikut pergi bersamanya, ayah hanya mengucapkan
satu hal pada kami, "Bagaimana jika kalian tak dapat melihatnya
lagi?”, dan kami pun hanya terdiam mendengar perkataan ayah yang
membuat kita tak mengerti mengapa ayah mengucapkan kata-kata itu.
Tetapi aku tak merasakan ada yang aneh dengan perkataan ayah, ayah
memang selalu menyuruh kita untuk selalu ikut pergi kerumah nenek
karena memang kita sangat jarang bertemu karena memang keadaan yang
tak memungkinkan tuk kita selalu bertemu
Saat
sesampainya di rumah nenek ku melihat jam yang menunjukkan pukul
16.00 WIB, seperti biasa kami langsung pergi menuju kamar nenek yang
tak terlalu jauh. Tetapi saat ini kumerasa ada yang aneh dengan
nenek. Biasanya jika kami datang ia langsung menangis dan memeluk
kami erat-erat, tetapi ini memang sih seperti biasa ia langsung
memeluk kami dengan eratnya tetapi ia hanya tersenyum tanpa ada air
mata yang jatuh membasahi pipinya.
Nenek
yang sejak beberapa tahun yang lalu mengidap penyakit stroke yang
sudah cukup lama.kami semua sudah mencoba membawa nenek kerumah sakit
manapun tetapi apa hasilnya? Ia tetap saja seperti itu. Baru kali ini
aku mengenal nenek yang sangat tegar dalam menghadapi semua cobaan.
Ia adalah nenek yang sangat kukagumi ia sangat kuat dalam menghadapi
penyakitnya tak pernah ku mendengar ia mengeluh dan merintih
kesakitan karena penyakitnya, ia adalah nenek yang sangat kuat yang
pernah ku kenal selama ini.
Ia
pernah berkata padaku walau aku tak seberapa mengerti apa yang ia
ucapkan karna cara ia berbicara sangat terbata-bata dan susah untuk
mengatakan kata-kata dari mulutnya akibat penyakit yang dideritanya
selama ini yang aku pahami intinya adalah kalau ia sangat
menyayangiku lebih dari apapun di dunia ini, mungkin aku baru
menyadari kasih sayangnya yang sangat besar selama ini padaku. tetapi
aku merasa ada yang aneh akhir-akhir ini, aku sangat sering melihat
raut wajah nenek yang sangat cantik dan bahagia, mungkin karena semua
anak-anaknya ngumpul besamanya karna jarang sekali saat-saat bahagia
itu datang jika memang tidak ada acara atau keadaan yang sangat
penting disini.
Sebelum
aku melihat nenekku aku bertanya kepada Tuhan “ Tuhan mengapa kau
mengambilnya secepat ini??, mengapa kau memanggilnya sekarang??, Tuhan
jika ku dapat memutar waktu ku ingin membuatnya bahagia di sisa-sisa
hidupnya, Tuhan aku tak dapat melihat ia tertidur untuk selamanya,
Tuhan apakah ia memiliki salah kepadamu walau aku tau ku tak dapat
melawan takdir yang telah kau gariskan”.
Saat
ku mulai mencoba untuk menengok ke arah nenek, saat itu pun baru
kusadari bahwa nenek yang sangat kusayangi telah pergi
meninggalkanku dan meninggalkan semua yang menyayanginya di dunia ini
untuk selama-lamanya dan tak akan pernah bisa ia kembali lagi ke sisi
kami semua di sini. Aku pun mulai berkata dalam hati, “Nenekku
tersayang, cucumu datang nek. Maafkan cucumu ini yang baru datang. Tapi rasa
cinta dalam hatiku tak pernah berkurang walau terkadang aku berada dalam
kekhilafan. Cucumu begitu merindukanmu Nek!"
Tak lama aku menatap nenek yang sedang terbujur kaku di ranjang tidurnya sendiri karna ku tak dapat melihat nenek yang sangat kusayangi itu pergi meninggalkanku. Tak kusadari air mata ini mulai jatuh sedikit demi sedikit dan tak henti-hentinya terus mengalir di pipiku, tlah ku coba untuk menahan air mata ini agar tak jatuh lagi tapi sulit sekali menahan air mata ini mungkin karena aku masih terpukul dan shock untuk menerima semua hal yang telah terjadi.
Tak lama aku menatap nenek yang sedang terbujur kaku di ranjang tidurnya sendiri karna ku tak dapat melihat nenek yang sangat kusayangi itu pergi meninggalkanku. Tak kusadari air mata ini mulai jatuh sedikit demi sedikit dan tak henti-hentinya terus mengalir di pipiku, tlah ku coba untuk menahan air mata ini agar tak jatuh lagi tapi sulit sekali menahan air mata ini mungkin karena aku masih terpukul dan shock untuk menerima semua hal yang telah terjadi.
"Walau rasa rindu ini tak akan
pernah terobati lagi, tetapi percayalah cucumu akan selalu mendoakanmu dalam
setiap sujudnya. Salam cintaku untukmu Nek, tenanglah di sana! Selamat tinggal,
Nek.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar